Beranda > Seputar Kesejarahan > Bela Negara Pangeran Di Ponegoro

Bela Negara Pangeran Di Ponegoro


Sejak akhir abad ke-17 sampai menjelang pahlawan Diponegoro, kerajaan Mataram mengalami kemerosotan. Daerah pantai di utara Jawa diambil alih oleh Belanda. Pada akhir abad ke-19, masyarakat Jawa Tengah khususnya di wilayah kerajaan Mataram merasa gelisah dan kecewa. Kebencian dan kekecewaan timbul di seluruh lapisan masyarakat.

Who    :  Pangeran Diponegoro

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dalam menghadapi Belanda, beliau dibantu oleh Kyai Maja dan Sentot Alibasya Prawirodirjo. Taktik atau siasat perang Diponegoro membuat Belanda dan prajuritnya kalang kabut menghadapi siasat itu. Untuk memadamkan perlawanan terhadap siasat Diponegoro, Belanda mencoba mengangkat Sultan Sepuh menjadi sultan kembali di Jawa Tengah. Setelah itu Sultan Sepuh diasingkan Belanda di Raffles di Pulau Pinang. Setelah mendengar berita itu, rakyat Jawa Tengah mulai khawatir dan langsung memberitahukan berita itu kepada Pangeran Diponegoro supaya cepat menindaklanjuti agar tidak terlalu lama.

Where :  Mengadakan perundingan di Magelang

Pangeran Diponegoro akhirnya bersedia mengadakan perundingan dengan pihak Belanda. Perundingan diadakan di Magelang dan dijanjikan bahwa Belanda akan berlaku jujur. Dalam pengertian apabila perundingan gagal, maka Pangeran Diponegoro diperbolehkan kembali ke tempat pertahanannya. Dengan dasar kepercayaan dan keyakinan Pangeran Diponegoro berangkat tanggal 21 Februari 1830. Pangeran Diponegoro beserta pasukan-pasukannya tanggal 8 Maret 1830 tiba di Magelang.

What   :  Perjuangan mengusir penjajah

Perlawanan Pangeran Diponegoro ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar dan meluas. Bagi pasukan Belanda perlawanan Pangeran Diponegoro sangat cukup berat dan membawa korban cukup banyak atau tidak sedikit. Dalam usaha melawan Pangeran Diponegoro, Belanda telah banyak kehilangan pasukan sekitar 8.000 orang Eropa dan 7.000 orang serdadu pribumi serta biaya yang dibutuhkan sangat banyak yang harus dikeluarkan kurang lebih 20 juta Gulden. Banyak uang uang dikeluarkan Belanda untuk membiayai pasukan dan makanannya setiap hari, tapi usaha Belanda tidak sia-sia karena Pangeran Diponegoro dapat diasingkan dan ditangkap, kemudian diasingkan ke Manado.

How    :  Kiprah Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kyai Maja dan Sentot Alibasya Prawirodirjo. Dengan itu mereka ingin mengusir penjajah secepatnya tetapi atas perintah De Kock, pada tahun 1927 tentara Belanda mendirikan benteng di seluruh Jawa Tengah. Siasat itu sering disebut dengan Benteng Stelse karena setiap daerah yang telah dikuasai Belanda didirikan benteng dan setiap benteng tersebut di tempatkan pasukan patroli dengan gerakan yang sangat cepat.

Dalam jangka lama, siasat benteng itu terlihat keberhasilannya. Pasukan Pangeran Diponegoro yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bergerak dengan bebas karena mengalami kesulitan untuk mengadakan hubungan satu sama lain. Dari keadaan tersebut, Belanda mulai menjalankan politik devide et impera.

Kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro semakin lemah karena terputusnya hubungan dengan teman-temannya. Akhirnya, Kyai Maja tertangkap oleh Belanda dan kemudian diasingkan ke Manado dan wafat pada tahun 1848 di tempat pengasingannya yang terakhir, yaitu di Tosea. Sentot Prawirodirjo pun ditangkap oleh Belanda bersama-sama dengan Bupati Imogiri, tetapi Pangeran Diponegoro tidak menyerah lalu beliau mengadakan perang Diponegoro.

Why    :  Mengapa pada saat itu dijajah ?

Pada masa itu dijajah karena Belanda menginginkan wilayah dan ingin mengambil alih pemerintahan Mataram. Selain itu Belanda juga ingin memasukkan peradapan Barat yang menentang ajaran agama Islam di wilayah Jawa Tengah dan wilayah sekitar kerajaan Mataram. Selain itu rakyat juga dibebani dengan bermacam-macam pajak maka dengan itulah Pangeran Diponegoro ingin mengusir Belanda dari Jawa Tengah dan untuk mencapai kemerdekaan.

Tujuan   :  Pahlawan Kemerdekaan

Pangeran Diponegoro dan pengikutnya bertujuan untuk mengusir Belanda dan memerdekakan tanah air, dan mereka juga tidak ingin kalau kerajaan Mataram diambil alih oleh Belanda untuk memasukkan budaya Barat kepada masyarakat Jawa Tengah.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: