Beranda > Seputar Kesejarahan > Biografi K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Biografi K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)


Boleh saja orang mengatakan Abdurrahman Wahid itu kiai mbeling atau ugal-ugalan. Namun, kenyataannya, di mata warga Nahdiyin ia seorang imam yang kharismatik dan terpercaya. Bahkan ada yang menganggapnya setengah wali. Maka, betapapun kontroversialnya, Gus Dur tetap berakar. Dia yang dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang pernah dinobatkan sebagai Presiden Konferensi dunia bagi Agama dan Perdamaian. Dia juga termasuk anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center di Tel Aviv, Israel.

Hasil poling sebuah koran terbitan Jakarta terhadap 1.158 responden di Jakarta, Surabaya, Medan dan Ujungpandang menyimpulkan Gus Dur memiliki kemampuan mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini. Ada tiga kelebihan utama Gus Dur yang diakui responden. Pertama, aspek pembawaannya yang kharismatik dan kemampuan dalam komunikasi politik. Kedua, memiliki dukungan dari rakyat dan diakui sebagai sosok pemersatu. Ketiga, ia dianggap sebagai tokoh yang religius sekaligus pemimpin umat.

Kekurangannya, di mata responden, yang paling menonjol adalah kelemahan fisiknya. Sebelum Sidang Umum MPR, dia menjalani operasi mata di RS Morran South Lake City, Amerika Serikat. Gus Dur menyatakan, hasil tes kesehatan matanya oleh tim dokter Jerman dan Swedia kini sedang dipelajari tim dokter amerika Serikat. Dan, kabar dari tim dokter itu menyebutkan, masih ada harapan bagi putra mantan Menteri Agama KH Wahid Hasyim itu untuk bisa melihat kembali. Diagnosa itulah yang dijadikannya bekal maju sebagai calon presiden.

Dalam sebuah pertemuan, Gus Dur sempat melontarkan guyonan. Dia bertanya kepada tim dokter Jerman, adakah kemungkinan penglihatannya pulih kembali, karena hendak dicalonkan sebagai presiden oleh partainya? Dan tim dokter pun menjawab, tipis sekali kemungkinannya. “Ya sudah, nggak apa-apa. Wong tidak jadi presiden saja, semua presiden datang pada saya. Biarlah saya jadi presidennya para presiden.”

Kekurangan Gus Dur yang lain responden menilai dalam bersikap dia seringkali plin plan dan tidak tegas. Menurut pengamat politik Hasnan Habib, dalam politik itu ceplas-ceplos itu kadang-kadang nggak baik. Jadi harus hati-hati. Gus Dur sering menyatakan, “peduli amat orang lain.” Itu ndak bisa. Pemimpin itu melayani rakyat. Memang dia diterima kalangan minoritas. “Karena dia bisa the man who can say no wrong,” kata Habib.

Namanya mencuat ketika dalam Muktamar NU ke-26 tahun 1979 di Semarang terpilih menjadi Katib Aam Pengurus Besar Naddlatul Ulama (PBNU). Lima tahun kemudian dalam Muktamar ke-27 tahun 1984 di Asembagus Situbondo terpilih menjadi Ketua Umum bersama Rois Aam KH Achmad Sidiq. Pada waktu itu pemilihan pengurus tidak dilakukan melalui voting maupun tim formatur, melainkan diserahkan KH As’ad Syamsul Arifin yang ditunjuk sebagai ahlul halli wal aqdi. Dalam muktamar tersebut dicetuskan keputusan mendasar, yaitu “Kembali ke Khittah 1926”. Artinya, Nahdlatul Ulama yang semula malang melintang dalam dunia politik back to basic menjadi organisasi sosial kemasyarakatan. Namun demikian, bukan berarti NU mengharamkan Nahdliyin berpolitik.

Muktamar tersebut juga sangat strategis sebab dijadikan landasan acuan berpikir, bersikap dan bertindak yaitu sikaptawasuth dan i’tidal 9berlaku adil), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan amar makruf nahi munkar 9menyeru berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemungkaran). Dalam mukmatar ke-28 di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, secara aklamasi Gus Dur terpilih kembali. Bahkn untuk ketiga kalinya dlam Muktamr ke-29 di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Jawa Barat awal Desember 1994 dia terpilih lagi menjadi Ketua Umum PBNU hingga sekarang. Muktamar inilah yang paling krusial. Selain menghadapi saingan dari kelompok Abu Hasan, tampilnya Gus Dur untuk ketiga kalinya tidak direstui Presiden Soeharto pada waktu itu. Akibatnya secara kelembagaan, PBNU tidak pernah diterima presiden. Pada waktu itu sudh terlanjur membudaya setiap pengurus baru sebuah organisasi selalu sowan presiden.

Sejarah perjalanan Gus Dur tidak gampang dirumuskan. Dan tidak sederhana memprediksi kemana arahnya. Namun, dia telah membuat 220 juta manusia Indonesia mengerutkan dahi. Banyak analisis yang bisa menyesatkan jalan pikiran. Terutama manuver-manuvernya yang menggelinding cepat dan menentang arus. Yang bisa diyakini hanyalh, “Gerak langkah Gus Dur punya ari filosofi tinggi.”

Ketika Gus Dur bertemu Habibie, Wiranto dn Soeharto, maka Amien Rais menck-mencak. Ketika menuduh dalang kerusuhan Tasikmalaya, Situbondo dan pembantaian dukun santet Banyuwangi dengan inisial ES, Eggy Sudjana kebakaran jengkot. Ketika mengkritik ICMI, giliran konspirasi Habibie marah. Dari Ahmad Tirtosudiro, Dawan Raharjo sampai Ahmad Sumargono (KISDI) tersinggung.

Mungkin itu cara Gus Dur memancing siapa lawan dan kawan yang sebenarnya. Siapa yang harus dihadapi sekarang? Siapa yang menjegal program dan strateginya? Dengan begitu Gus Dur bisa melihat secara transparan lawan-lawan politiknya.

Pad tahun 1990, ketika Soeharto berkuasa, KH Abdurrahman Wahid memasang posisi diametral. Berkali-kali dia melontarkan pernyataan yang berani. Contohnya, pada bagian buku “A Nation in Waiting”, Indonesia in the 1990 yang ditulis Adam Schwarz. Menurut penulis yang mewawancarai pada Maret 1992, Gus Dur melontarkan kata-kata melecehkan Soeharto. Gus Dur juga menuduh, “Soeharto tak ingin melihat orang lain yang berada di luar kontrolnya menjadi kuat.” Meskipun demikian, dia termasuk orang yang berani menemani Pak Harto setelah lengser dari kursi kepresidenannya. Saat itu Pak Harto dan keluarganya sedang dihujat dan dicaci maki. Namun Gus Dur justru mendatanginya.

Dia pernah menyebut ICMI sebagai wadah eksklusif umat Islam militan yang mengibarkan bendera untuk menghadapi non-muslim, bahkan untuk mendirikan negara Islam. Cucu pendiri NU itu merasa khawatir, ICMI akan berubah jadi Masyumi baru. ICMI dipenuhi orang-orang ambisius yang ingin meloncat ke posisi berpengaruh. ICMI sebagai alat politik pemerintah. Karena itulah, dia kemudian membentuk Forum Demokrasi (fordem) yang beranggotakan tokoh-tokoh Indonesia, termasuk kalangan non-muslim. Disebut-sebut, LB Moerdani dn tokoh-tokoh Katolik juga sering terlibat dalam diskusi yang digelar forum tersebut.

Gus Dur juga termasuk yang paling gencar mengecam program-program “pemberdayaan” ekonomi ICMI, yang dinilai cenderung memusuhi etnis Cina. Bagi dia, pemberdayaan ekonomi umat Islam itu bisa ditempuh justru melalui jalinan kerjasama dengan etnis Cina yang memang merajai perekonomian Indonesia. Maka, terbnetuklah program BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Nusumma, program kongsi NU dengan Bank Summa. Nah, ketika rogram BPR yang direncanakan sedikitnya 2.000 buah pada pertengahan 1990 itu tidak berkembang, menyusul kebangkrutan Bank Summa, Gus Dur menuduh Soeharto-lah yang sengaja menghambat rencana besarnya itu.

Pertengahan 1994, Gus Dur menyerukan agar warga NU yang kecewa pada PPP dan Golkar agar beralih mendukung PDI pada Pemilu 1997. Pada saat Muktamar ke-29 di Cipasung, sebagian kyai mempersoalkan kunjungan Gus Dur ke Israel. Apalagi dalam kunjungan itu dia memuji-muji negeri kaum Yahudi itu. Bahkan dia mengatakan, Indonesia harus belajar demokratis dari bangsa yang di Al Qur’an disebut selalu memusuhi Islam tersebut.

Gus Dur pernah mengganti kalimat Assalamualaikum menjadi selamat pagi. Inilah yang membut konroversi di kalangan umat. Lalu melalui buku “Nahdlatul Ulama, tradisional Islam and Modernity in Indonesia”, Gus Dur menentang pelarangan pemerintah terhadap peredaran buku “The Satanic Verses” karya Salman Rusdhie.

Putra mantan Menteri Agama KH Wahid Hasyim ini juga menentang pembredelan tabloit Monitor yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW. Dia juga menghadiri acara-acara gereja Kristen dan menjalin hubungan dekat dengan intelektual atau usahawan Kristen maupun Cina. Fenomena membingungkan yang melekat pada diri Gus Dur juga tampak menjelang Pemilu 1997 lalu. Jauh-jauh sebelum pemilu digelar, Gus Dur terlihat sangat mesra bahkan terkesan runtang-runtung dengan putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut).

Padahal sebelumnya, dia terlihat sangat dekat dengan Megawati. “Mbak tutut itu tokoh masa depan,” tutur Gus Dur enteng di sela-sela Mujahadah Kubro di Lapangan Pancasila Semarang. Konon, kesraan dengan Mbak Tutut itu merupakan salah satu langkah dia mendekati pemerintah. Tapi ada yang menilai, justru Mbak tutut yang ingin menarik kekuatan NU ke Golkar. 23 Juli 1998 usai deklarasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Dur menghimbau agar seluruh warga NU mencoblos partai ini dalam pemilu Juni 1999. Kenyataannya PKB hanya meraih suara 10,20 persen atau 51 kursi di DPR RI. Partainya menempati urutan keempat setelah PPP.

 

BIODATA GUS DUR

 

N a m a                :  KH Abdurrahman Wahid

Agama                 :  Islam

Lahir                    :  Jombang, 4 Agustus 1940

Istri                      :  Dra. Hj. Siti Nuriyah

Anak                   :  4 orang

Jabatan                :   Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1984 – 1989, 1989 – 1994, 1999 – sekarang

Pendidikan :

–          SD, Jakarta (1953)

–          SMEP, Yogyakarta (1956)

–          Pesantren Tambak Beras, Jombang (1956 – 1963)

–          Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Universitas Al Azhar, Kairo

Pengalaman Kerja :

–          Di Belanda (8 bulan) dan Jerman (4 bulan)

–          Guru Madrasah Mu’alimat Tambak Beras Jombang (1956 – 1963)

–          Dosen dan Dekan Fakultas Usluhuddin Universitas ‘Hasyim Azhari” Jombang (1972 – 1974)

–          Sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974 – 1979)

–          Konsultan di berbagai lembaga dan departemen (1976)

–          Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur (1979 – sekarang)

–          Katib Aam Syuriah Nahdlatul Ulama (1979 – 1984)

–          Anggota MPR RI Golkar (1987 – 1992)

–          Ketua Tarfidziah PBNU (1984 – 1999)

Kegiatan lain :

–          Ketua DPH Dewan Kesenian jakarta (1983 – 1985)

–          Juru Festival Film Indonesia.

–          Ketua Kelompok Kerja forum Demokrasi (1991 – sekarang)

–          Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian (1994)

Penghargaan :

–          Bintang Tanda Jasa Kelas I dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Islam dari Pemerintah Mesir (1992)

–          Ramon Magsaysay, filipina (1993)

  1. 10 April 2013 pukul 13.01

    It’s really a great and useful piece of information. I am happy that you simply shared this helpful information with us. Please stay us informed like this. Thanks for sharing.

    • 10 April 2013 pukul 14.06

      yes thank you for the compliment speech
      I as the owner of the blog globalmaya.wordpress.com very grateful because it has been the simple blog I created ..

  2. 5 Mei 2013 pukul 23.15

    Hello mates, how is everything, and what you want to say regarding this article,
    in my view its genuinely amazing in support of me.

  3. 5 Mei 2013 pukul 23.55

    There usually are not many web sites with data like this man!
    Bookmarked!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: