Arsip

Archive for Februari, 2011

Sejarah Berdirinya TNI


Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir dalam kancah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang berambisi untuk menjajah Indonesia kembali melalui kekerasan senjata. TNI merupakan perkembangan organisasi yang berawal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR). Selanjutnya pada tanggal 5 Oktober 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan untuk memperbaiki susunan yang sesuai dengan dasar militer international, dirubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).Dalam perkembangan selanjutnya usaha pemerintah untuk menyempurnakan tentara kebangsaan terus berjalan, seraya bertempur dan berjuang untuk tegaknya kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Untuk mempersatukan dua kekuatan bersenjata yaitu TRI sebagai tentara regular dan badan-badan perjuangan rakyat, maka pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden mengesyahkan dengan resmi berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada saat-saat kritis selama Perang Kemerdekaan (1945-1949), TNI berhasil mewujudkan dirinya sebagai tentara rakyat, tentara revolusi, dan tentara nasional. Sebagai kekuatan yang baru lahir, disamping TNI menata dirinya, pada waktu yang bersamaan harus pula menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Dari dalam negeri, TNI menghadapi rongrongan-rongrongan baik yang berdimensi politik maupun dimensi militer. Rongrongan politik bersumber dari golongan komunis yang ingin menempatkan TNI dibawah pengaruh mereka melalui “Pepolit, Biro Perjuangan, dan TNI-Masyarakat:. Sedangkan tantangan dari dalam negeri yang berdimensi militer yaitu TNI menghadapi pergolakan bersenjata di beberapa daerah dan pemberontakan PKI di Madiun serta Darul Islam (DI) di Jawa Barat yang dapat mengancam integritas nasional. Tantangan dari luar negeri yaitu TNI dua kali menghadapi Agresi Militer Belanda yang memiliki organisasi dan persenjataan yang lebih modern. Baca selanjutnya…

Panglima Tentara Demak : Sunan Bonang


Raden Makhdum atau Raden Maulana Makhdum Ibrahim selanjutnya dikenal dengan Sunan Bonang adalah putera Sunan Ampel dan seperti yang sudah dituliskan di atas dalam sejak kecil mendapat pendidikan dan pengkaderan seangkatan dan seperjalanan dengan Sunan Giri.

Yang terkenal sampai dengan sekarang warisan dari Sunan Bonang adalah Syi’iran Tamba Ati (Tombo Ati-nya Opick). Pada masanya Sunan Bonang menyanyikan Tombo Ati sebagai media dakwah untuk mengajak masyarakat menerima Islam Kaffah.

Pulang menuntut ilmu, Sunan Bonang ditugaskan oleh Sunan Ampel berdakwah di Tuban, Pati, Pulau Madura dan Pulau Bawean di utara Pulau Jawa. Sama seperti sahabatnya Sunan Giri, yang mendirikan pusat dakwah di Gresik, Sunan Bonang mendirikan pesantren sebagai pusat dakwah di Tuban. Sunan Bonang termasuk da’i yang sukses mengemban amanah dakwah dengan pendekatan-pendekatan yang kreatif diantaranya melalui kesenian. Baca selanjutnya…

Sejarah Berdirinya Negara Islam Demak


Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan, Raja Brawijaya ingat akan puteranya yang tinggal di Bintara. Sabdanya kepada Adipati Terung, “ bagaimana kakakmu sudah sekian lama tidak pernah menghadap.

Janjinya setiap tahun akan menghadap, ini sudah tiga tahun tidak datang kesini. Apakah sudah mulia, lalu lupa pada saya. Kalau begitu, pergilah ke Bintara tanyakan pada kakakmu apa sebeb tidak menghadap sang raja?”.

Adipati terung segera ke Bintara diiringi sepuluh ribu pasukan. Sesudah ketemu dengan kakaknya serta menyampaikan panggilan sang Raja. Raden Fatah menjawab,” Terima kasih sungguh sangat besar anugerah kasih sayang sang Prabu. Adapun sebab tidak sowan, adalah begitu besar pantangan agama, yang tidak mengizinkan umat Islam untuk mengabdi kepada orang kafir. Serta sudah ditakdirkan bahwa di Bintara akan berdiri kerajaan yang menjadi awal orang Jawa beragama Islam”.

Pernyataan Raden Fatah menunjukan sikap aqidah Islamiyah yang telah tertanam dalam hati sanubarinya. Keyakinan akan wajibnya menegakan perjuangan Islam dengan Pola Furqon, yaitu sikap buro’ah berlepas diri, menjauhi sampai memerangi orang-orang kafir hatta mereka beriman dan berislam. Baca selanjutnya…

Startegi Dakwah Para Walisongo


Hakekat strategi adalah usaha-usaha untuk menguasai dan mendayagunakan segala sumber daya untuk mencapai tujuan. Tujuan dakwah walisanga adalah tegaknya Islam di tanah Jawa pada khususnya dan bumi Nusantara pada umumnya dengan kata lain futuh islam fi Nusantara. Dalam cerita tradisional diungkapkan bahwa para wali itu kaya akan ilmu kesaktian, jaya kawijayan. Mereka wicaksana, sugih srana lan waksita marang agal alus, itu semua merupakan bukti kelihaian dan kepandaian mereka dalam mengatur siasat dan strategi serta pengorganisasiannya.

Diantara yang menonjol dalam strategi dakwah walisanga adalah dalam mengimplementasikan gerakan dakwah versi Rosul yang berdaya politik. Upaya tersebut diantaranya: Pertama, membangun kader basis personal tauhidi; bidikan dakwah Sunan Ampel khususnya adalah generasi muda yang dikader sejak dini sehingga tangguh akidah dan ideologinya, mereka ada dalam lapisan trah bangsawan yang memiliki visi intelektual yang mumpuni. Diantara mereka adalah Raden Fatah keturunan Raja Brawijaya. Kedua, membangun basis teritorial, keadaan Majapait yang rawan diistegrasi memberikan situasi kondusif bagi dibangunnya wilayah basis target dakwah. Basis teritorial dakwah walisanga berada pada sembilan wilayah negara bagian Majapahit. Kegigihan Raden Fatah membuat pedukuhan baru di Bintara Demak yang sebelumnya hutan belantara sebagai buktinya. Ketiga, melakukan dakwah persuasif ke masyarakat. Baca selanjutnya…

WaliSongo Adalah Para Pemuda


Tokoh sentral yang menjadi pencetak generasi futuh Islam adalah Sunan Ampel. Dari beberapa literatur Raden Rahmat yang kemudian dikenal dengan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 M besar dengan ibunya di Campa sampai usia 20 tahun yang selanjutnya datang ke Jawa setelah singgah selama dua bulan di Palembang dengan berdakwah kepada Arya Damar Raja Palembang (bapak tiri Raden Fatah). Artinya Sunan Ampel datang ke Jawa sekitar tahun 1421, setelah di Jawa dia menikah dengan putri dari Tumenggung Wilatikta (Keturunan Ranggalawe) dan menetap di Ampel Denta. Bila perintisan pusat pengkaderan Ampel Denta sekitar tahun 1422 M direntangkan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan berdirinya Negara Islam Demak pada tahun 1478 M maka gerakan Islam para wali secara akseleratif mencapai futuh berlangsung selama 56 Tahun. Ini sebuah pencapaian yang fantastis…Subhanallah….Allohu Akbar.

Siapa para penyokong gerakan Ampel Denta ? mereka tiada lain adalah kader-kader yang disiapkan sejak kecil oleh Sunan Ampel. Tokoh-tokoh yang berperan besar bagi tegak berdiri Negara Islam Demak diantaranya : Raden Paku atau Jaka Samudra menantu Sunan Ampel (Sunan Giri), Raden Makdum Ibrahim putra Sunan Ampel (Sunan Bonang), Raden Qosim putra Sunan Ampel (Sunan Drajat), Jafar Sodiq (Sunan Kudus), Raden Sahid menantu Sunan Ampel (Sunan Kalijaga), dan Raden Hasan putra Raja Brawijaya yang menjadi anak tiri Arya Damar dan menantu Sunan Ampel (Raden Fatah). Baca selanjutnya…

Sejarah Islam Tanah Jawa


Situasi Tanah Jawa Awal Abad ke-15

Seorang Muslim Cina yang mengikuti perjalanan ke-7 Laksamana Cheng Ho ke Jawa yang berlangsung antara tahun 1431- 1433 M menuturkan tentang situasi perilaku sosial masyarakat Jawa saat itu, bahwa di Jawa ketika itu terdapat tiga golongan penduduk.

Golongan yang pertama adalah penduduk Islam dari barat yang telah menjadi penduduk setempat. Pakaian dan makanan mereka bersih serta pantas. Golongan kedua adalah orang-orang Cina yang lari dari negerinya dan menetap di Jawa. Pakaian dan makanan mereka baik dan banyak di antara mereka yang sudah masuk Islam serta taat melaksanakan amal ibadahnya. Sedangkan golongan ketiga adalah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tidak berpakaian. Rambut mereka tidak disisir, kaki telanjang dan mereka sangat memuja roh. Baca selanjutnya…

Samudra Pasai Negara Islam Pertama


Di Masa Khalifah ketiga ‘Ustman (644 – 656), utusan-utusan dakwah dari Tanah Arab mulai tiba di istana Cina. Kontak-kontak antara cina dan dunia Islam terpelihara terutama lewat jalur laut melalui perairan ndonesia. Karena itu tak aneh bila orang-orang Islam tampak memainkan peran penting dalam urusan-urusan negara-perdagangan yang besar di Sumatera yang beragama Budha, Kerajaan Sriwijaya. Antara tahun 904 M sampai pertengahan abad XII, utusan-utusan dari Sriwijaya ke istana Cina memiliki nama Arab (Muslim). Inilah yang menjadi jejak-jejak telah munculnya peran umat Islam dalam bidang ekonomi-politik meskipun dalam sistem pemerintahan Sriwijaya yang Budha.
Petunjuk pertama tentang muslim Indonesia berkaitan dengan bagian utara Sumatera. Di pemakaman Lamreh ditemukan nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al-Bashir yang wafat tahun 608 H/ 1211 M. Ini merupakan petunjuk pertama tentang keberadaan kerajaan Islam di wilayah Indonesia. Baca selanjutnya…