Beranda > Seputar Kesejarahan > Kekuatan – Kekuatan Sejarah

Kekuatan – Kekuatan Sejarah


Ekonomi sebagai kekautan sejarah.

Dari sejarah dunia kita belajar bahwa terciptanya Jalan Sutera dari Tiongkok ke Eropa ialah karena kepentingan ekonomi. Eksplorasi Eropa ke dunia Timur sebagian besar karena alas an ekonomi. Kedatangan orang-orang Eropa di Amerika bagian selatan, perdagangan perbudakan, dan kedatangan para pengejar “ American Dream” karena alas an itu pula.

Barangkali karena alas an ekonomilah Trunojoyo menyerang Mataram; Madura selalu bersaing dengan Jawa; dank arena blockade Belanda telah menghentikan arus ekonomi dari Jawa ke Madura, terpaksalah sebagian elit politik Madura menerima pembentukan Negara Madura sesudah Proklamasi 1945.

Agama sebagai kekuatan sejarah.

Munculnya agama Kristen, masuknya Kristen ke Eropa, dan terbentuknya Zaman Pertengahan di Eropa sebagian besar dapat dijelaskan dengan agama. Demikian juga gerakan Kontra-Reformasi

Pada zaman pergerakan nasional, gerakan yang khusus keagamaan diantaranya ialah Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926). Muhammadiyah adalah gerakan “amar ma’ruf nahi munkar” yang berusaha kembali kepada sumbernya yaitu al-Qur’an dan Hadist. Karena itu ia harus menghadapi budaya Jawa yang dianggap penuh kurafat dan ajaran Islam yang ada dianggap penuh bid’ah.

Reaksi terhadap Muhammadiyah yang antimazhab dan Syarekat Islam yang penuh politik, lahirlah Nahdlatul Ulama yang menegaskan kembali pentingnya mazhab yang jumlahnya empat (Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi) dan sebuah gerakan agama yang non politik.

Institusi sebagai kekuatan sejarah.

Sejak zaman klasik, Yunani selalu bermusuhan dengan Sparta dan Persia karena perbedaan institusi. Yunani selalu digambarkan sebagai sebuah Republik yang demokratis sementara Sparta dan Persia adalah tirani.

Dalam sejarah Indonesia, institusi, terutama Negara juga merupakan kekuatan yang menggerakan sejarah.

Yang akan menulis sejarah politik, mungkin puas dengan melihat institusi politik. Akan tetapi, bagi penulis sejarah social atau sejarah ekonomi dapat melihat kekuatan sejarah di belakang institusi. Sejarah itu bisa berlapis-lapis.

Ideologi sebagai kekuatan sejarah.

Gerakan Nasionalisme merupakan ideology yang melahirkan banyak lembaga politik. Sebagai gerakan yang dipengaruhi oleh romantisme, nasionalisme juga juga mempunyai pengaruh dalam kesusastraan. Poedjangga Baroe yang didefinisikan seni sebagai gerakan sukma, terbagi ke dalam dua kubu. Kubu pertama melihat Indonesia lebih sebagai Timur dan kubu kedua yang lebih memilih Barat sebagai model.

Militer sebagai kekuatan sejarah.

Selain bangsa Belanda, pada zaman Belanda diangkat orang-orang Indonesia sebagai tentara. Para raja pribumi juga diwajibkan untuk membentuk pasukan. Demikianlah, misalkan, Barisan Madura dipakai Belanda untuk memadamkan Perang Aceh. Dalam Perang Dipenogoro peran serdadu Belanda tidak terpisahkan dari penyelesaian perang. Mereka lebih professional dari tentara Dipenogoro yang kebanyakan pasti direkrut dari penduduk.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: