Beranda > Seputar Kesejarahan > Keadaan Masyarakat China Kuno Sebelum Abad ke 5 SM

Keadaan Masyarakat China Kuno Sebelum Abad ke 5 SM


Sistem Sosial Masyarakat

Tulisan mengenai Cina paling dini yang sampai ke tangan kita berasal dari sebuah kota yang menjadi pusat pemerintahan raja-raja Shang sekitar tahun 1400 SM. Kebudayaan pada masa itu sudah sangat maju terbukti dengan adanya gedung-gedung besar, bejana-bejana perunggu, tenunan sutera yang berwarna-warni, dan banyak lagi. Bangsa ini pula mempunyai beberapa kitab namun sudah lama hilang sehingga saat ini bukti-bukti kejayaannya hanya bisa dilihat dari beberapa manuskripsi singkat pada tulang dan batu-batu prasasti.

Dari beberapa literatur yang ada terungkaplah pada masa itu bangsa Cina memang sedang menghadapi perang antar wilayah demi mendapatkan wilayah kekuasaan yang luas. Ada beberapa alasan mengapa sampai terjadi peperangan, diantaranya :

1. Melemahnya kekuasaan pemerintah pusat.

2. Sistem Feodal mulai runtuh

3. Ke-egois-an dari negara-negara bagian, seperti banyak terjadi :

  1. Perang untuk mengganti penguasa yang tidak diinginkan
  2. Perang untuk memperoleh wilayah kekuasaan yang lebih luas.
  3. Perang untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.

Bangsa Shang yang berbudaya tinggi ini ditaklukan pada tahun 1122 SM oleh suku liar dari Cina Barat yang bernama Chou. Bangsa Chou sangat mahir dalam berperang dan merebut daerah kekuasaan namun mempunyai kelemahan dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya, karena mereka tidak mempunyai sistem pemerintahan yang teratur rapi. Namun berkat jasa bangsawan yang merupakan paman dari raja muda Chou yang dikenal dengan sebutan Bangsawan Penguasa Chou, akhirnya Bangsa atau Dinasti Chou bisa bertahan.

Bangsawan Penguasa Chou memerintah dengan tangan besi namun ketika keadaan berbahaya telah usai ia memerintah dengan lebih lunak dan akhirnya mengembalikan kekuasaannya pada keponakannya. Bangsawan Penguasa Chou ini sangat dihormati dalam tradisi Cina ia dianggap sebagai peletak dasar tradisi Kongfusianisme, karena ada beberapa gagasannya yang cukup berpengaruh dalam tradisi pemikiran Cina.

Pada masa pemerintahan Dinasti Chou setiap segi perikehidupan dikuasai oleh kaum ningrat secara turun temurun karena dipercaya bahwa kaum ningrat merupakan turunan para dewa yang dahulunya adalah para pahlawan bangsa Cina.

Keluarga Chou merupakan turunan dari seorang leluhur yang bernama Hou Chi yang secara harfiah berarti Penguasa Jawawut. Asal muasal Hou Chi banyak diwarnai oleh cerita-cerita yang bersifat mitos. Menurut kepercayaan bangsa Cina yang memberi kekuasaan pada suatu keluarga atau dinasti adalah para peletak dasar. Setelah meninggal para ningrat hidup di alam surga mengawasi keturunan mereka, dari surga mereka memberi kemenangan dimasa perang dan kemakmuran dimasa damai pada keturunannya. Dan sebagai imbalan keturunannya mempersembahkan sajian karena mereka sadar bahwa para penguasa hidupnya sangat ditentukan oleh para leluhur mereka.

Dalam sistem masyarakat yang mempunyai kepercayaan seperti ini maka tertutup kemungkinan bagi rakyat jelata untuk menjadi penguasa karena mereka tidak mempunyai leluhur yang berkuasa di surga, dan mereka tidak mempunyai kepastian hak akan hal itu. Rakyat jelata umumnya sudah merasa puas jika setiap hari mereka sudah cukup makan dan minum. Pada masa itu rakyat jelata sangat sedikit yang dapat menulis. Mereka biasanya diperlakukan semena-mena oleh para penguasa dalam hal pungutan pajak, kerja paksa, dan menjatuhkan hukuman sesuka hati penguasa. Hal ini lama kelamaan disadari oleh kaum penguasa sebagai hal yang merugikan karena kepercayaan rakyat dapat hilang dan kekuasaan terhadap wilayah tersebut dapat hilang.

Maka ketika Dinasti Chou berkuasa, para bagsawan dihimbau untuk merangkul semua kalangan dari mulai kaum ningrat hingga rakyat jelata. Dengan harapan mereka bisa menarik simpati dan mendapatkan dukungan dari semua kalangan. Para bagsawan Chou diharuskan untuk berlaku jujur dan adil, bersikap bijak dan melindungi, melindungi anak-anak, berfikir jauh kedepan dalam merencanakan segala sesuatu sehingga rakyat yang dipimpinnya menjadi tenang dan tentram hatinya, dan jika mereka melakukan ini semua jabatannya tidak akan dicabut oleh penguasa dinasti Chou.

Propaganda yang dilancarkan oleh Dinasti Chou ketika menggulingkan Dinasti Shang adalah bahwa raja Shang tidak menjalankan perintah yang diberikan oleh Tuhan (Ti), mereka memerintah dengan sekehendak hati, tanpa memperhtikan rakyatnya. karena kesemena-menaan raja Shang maka Tuhan marah sehingga mengutus Dinasti Chou untuk menggulingkan kekuasaan mereka. Propaganda ini yang terus di sosialisasikan ke masyarakat, dan mereka benar-benar mencari simpati dari rakyat agar mau bekerja sama dengan mereka. Propaganda bahwa mereka membawa keputusan Tuhan selalu digunakan oleh kaum pemberontak. Tuhan menolak penguasa yang terdahulu karena mereka melakukan kejahatan.

Namun, seperti sudah diungkapkan diatas bahwa untuk mempertahankan kekuasaan itu memang tidak mudah apalagi jika dinasti yang berkuasa tidak mempunyai perhubungan yang baik serta mata uang, tidak mungkin dapat memerintah suatu wilayah yang luas. Akhirnya penguasa Chou membagikan kekuasaan mereka pada raja-raja yang ditaklukannya, dengan sistem pengawasan dari pusat. Pada awalnya sistem ini berjalan sangat baik namun karena lama-kelamaan terutama setelah kepemimpinan dipegang oleh keturunan raja-raja yang ditaklukan, mulai muncul kesadaran akan hak-hak mereka sebagai penguasa yang mutlak, akhirnya banyak muncul pemberontakan diwilayah kekuasaan dinasti Chou, dan puncaknya ketika raja Chou tewas dalam pertempuran pada tahun 771 SM. Dengan demikian dinasti Chou tidak lagi mempunyai pusat kekuasaan yang mutlak, bersamaan dengan itu dimulailah pertempuran-pertempuran antar dinasti yang ada, yang diwarnai dengan perjanjian gencatan senjata, perdamaian, persekutuan dan sebagainya. Menurut catatan sejarah peperangan ini berjalan selama berabad-abad yang mengakibatkan penderitaan pada rakyat.

Perang saudara yang terjadi di beberapa tempat mengakibatkan masyarakat Cina mengalami banyak sekali goncangan terutama beberapa kejadian dibawah ini: (Jingpan, 1994, 57-60)

1. Adanya Penyimpangan Moral secara umum

Kung Fu Tze dalam Analects telah menceritakan bahwa pada saat itu dunia sudah tidak lagi memiliki prinsip tentang Kebenaran dan Kebaikan. Meng Tzu menggambarkan pada masa itu adalah sebagai masa dimana dunia telah jatuh kedalam lembah kenistaan, Kebenaran telah dicampakkan. Doktrin-doktrin tentang Kesesatan dan Kekerasan tumbuh dengan suburnya. Saat itu terjadi seorang anak membunuh ayahnya, dan sebagainya. Keadaan moral seperti ini yang membuat Kung Fu Tze khawatir.

2. Kemewahan serta Kekuasaan Orang Kaya dan Penderitaan serta Kesengsaraan Orang Miskin.

Terdapat ketimpangan yang sangat jauh antara Orang Kaya dengan Orang Miskin, seperti digambarkan pada masa itu Orang Kaya berlomba untuk menunjukkan kekayaannya dengan membangun rumah dan tempat peristirahatan yang sebenarnya tidak mereka gunakan setiap hari. Tujuan mereka hanyalah untuk memamerkan kekayaan yang mereka miliki. Bahkan sering terjadi persediaan makanan yang terdapat di beberapa gudang penyimpanan makanan kaum bangsawan busuk dimakan serangga sementara masih banyak orang miskin yang kelaparan dan kedinginan.

3. Pemerintahan yang Korup

Pada saat itu pemerintahan sudah tidak dapat dikendalikan lagi, tingkat korupsi begitu tinggi, pungutan pajak yang begitu tinggi dan yang lebih memperburuk keadaan adalah terdapat banyak kasus tentang pemusnahan suatu suku atau golongan. Keadaan ini mengakibatkan banyak sekali penderitaan terutama bagi orang-orang dari golongan bukan bangsawan.

4. Pencurian dan Perampokan yang tidak dapat Dicegah.

Adanya ketidakpuasan dan penderitaan dari orang-orang biasa akibat dari pemerintah yang korup, ketidakadilan sosial dan ketimpangan keadaan yang sangat tajam antara orang kaya dengan orang miskin, serta ditambah lagi dengan adanya perang, ketiadaan moral, guncangnya situasi sosial politik masyarakat mengakibatkan munculnya banyak kasus-kasus pembunuhan, pencurian dan perampokan.

Sistem Pendidikan Masyarakat.

Pendidikan saat itu masih diperuntukkan bagi keluarga bangsawan, karena untuk mendapatkan pendidikan membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Sistem pendidikan saat itu dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu : (Jingpan, 1994,70-71)

1. Infant School (Shu)

Tingkat pendidikan ini diperuntukkan bagi mereka yang berusia dibawah 7 tahun dan masih merupakan keluarga bangsawan.

Dalam tingkatan pendidikan ini anak-anak diajarkan tentang pengetahuan praktis terutama untuk menjalankan kehidupan mereka sehari-hari, seperti bagaimana cara makan, berbicara, berhitung dan sebagainya.

2. Lower School (Hsiao Hsueh)

Umumnya peserta didik pada tingkatan ini adalah anak laki-laki yang berusia antara 8 sampai 15 tahun. Kurikulum yang terdapat pada tingkatan ini adalah sebagai berikut :

a. Pendidikan Moral, diajarkan bagaimana cara berprilaku yang benar sebagai seorang bangsawan. Membersihkan dan menyapu lantai, bagimana menjawab dan merespon pertanyaan, bagimana menjadi pendengar yang baik.

b. Pendidikan Intelektual, termasuk didalamnya bagaimana cara membaca, menyanyi, menulis dan matematika.

c. Pendidikan Fisik, termasuk didalamnya menari, bercocok tanam, menunggang kuda, mengendarai kereta kuda, dan panahan.

3. Higher School (Ta Hsueh)

Peserta didik pada tingkatan ini umumnya laki-laki yang berusia 16 hingga 24 tahun. Peserta didik pada tingkatan ini dibagi lagi menjadi dua yaitu anak-anak dari kerajaan disebut P’i Yin dan anak-anak bangsawan yang berasal dari penguasa-penguasa daerah disebut P’an Kung. Pada tingkatan ini diajarkan beberapa hal, diantaranya :

a. Pendidikan Moral, didalamnya diajarkan bagaimana cara berfikir yang benar dan tulus, tujuannya adalah untuk pengendalian diri dan menjaga kepribadian bangsawan.

b. Pendidikan Intelektual, mempelajari enam disiplin kesenian, serta meningkatkan beberapa hal yang diperlukan dalam bertingkah laku, pengetahuan dan keterampilan lanjutan terutama untuk menggali dan memperluas pengetahuan yang telah mereka peroleh.

c. Pendidikan Fisik, materi yang diajarkan adalah materi yang diajarkan pada tingkat Hsiao Hsueh hanya tingkatannya lebih lanjut.

Bagi masyarakat Cina saat itu kedudukan seorang guru adalah sebagai perwakilan dan utusan Tuhan yang membawa keinginan Tuhan dan membawa kembali manusia kepangkuan Tuhan. Ada 3 nilai penting dalam kehidupan masyarakat Cina, yaitu Orang tua yang melahirkan kita, Guru yang mengajarkan kita dan Raja yang memberi kita makan. Jadi jelaslah kedudukan guru sangat dihormati dan diagungkan.

Sistem Pemikiran dalam Masyarakat

1. Kaum Pesimis

Golongan yang masuk dalam kategori kaum pesimis ini melihat keadaan masyarakat yang sudah begitu kacau keadaannya, tingkat korupsi yang begitu tidak bisa dikendalikan lagi. Hal ini yang mengakibatkan beberapa orang merasa tidak ada harapan lagi untuk mengadakan perbaikan dalam masyarakat. Kung Fu Tze menyebut mereka dengan istilah Hsien Jen.

Beberapa alasan yang mengakibatkan munculnya Kaum Pesimis, diantaranya :

a. Masyarakat sudah begitu korup sehingga sudah tidak mungkin lagi dilakukan perbaikan.

b. Bukan saja masyarakat yang korup tetapi juga ketidakramahan masyarakat dalam segala bentuk. Dalam masyarakat tumbuh rasa curiga diantara mereka.

c. Mendahulukan kepentingan individu merupakan hal yang lebih penting dan menguntungkan dibandingkan dengan melakukan reformasi sosial yang dirasa sia-sia.

2. Kaum Konservatif

Golongan ini adalah mereka yang sudah puas dengan keadaan masyarakat pada saat itu. Mereka tidak perduli dengan berbagai bentuk reformasi. Golongan ini dapat di bagi lagi menjadi dua kategori, yaitu :

a. Orang Terpandang yang Selalu Berhati-hati dalam Bertingkah Laku (Hsiang Yuan)

Mereka adalah orang-orang yang sangat dihargai dalam masyarakatnya karena kebangsawanan dan tingkah laku mereka yang mencerminkan kebangsawanan mereka. Mereka sangat puas dengan keadaan sosial mereka dan menolak semua bentuk pembaharuan dan reformasi. Mereka adalah kelompok penghalang yang paling kuat untuk melakukan reformasi dan mereka pula merupakan musuh utama bagi kelompok reformis. Kung Fu Tze sering menyebut mereka sebagai Pencuri dan ia sangat benci terhadap keberadaan kelompok ini.

Ada beberapa hal yang menyebabkan Kung Fu Tze menyebut mereka sebagai Pencuri, diantaranya :

1. Mereka terlalu konservatif untuk menerima ide-ide baru atau reformasi.

2. Mereka terlalu terbius dengan keadaan atau kedudukan mereka dan berusaha untuk mempertahankan keadaan tersebut.

3. Mereka terlalu bengga menjadi orang yang dihormati dalam masyarakat dan merasa diri merekalah yang paling benar.

4. Mereka terlalu keras kepala, bangga dan konservatif untuk menerima kebenaran.

b. Masyarakat Umum

Kelompok masyarakat ini adalah kelompok yang paling banyak jumlahnya dan menurut Kung Fu Tze kelompok manusia seperti ini akan terjadi di berbagai wilayah. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah perduli dengan permasalahan sosial dan politik yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Mereka tidak perduli apakah akan ada suatu reformasi dalam masyarakat atau ide-ide baru dalam bidang sosial dan politik. Mereka selalu terjebak dengan rutinitas kehidupan mereka yang akhirnya menjadikan mereka orang yang tidak peduli dengan keadaan sekitar dan cenderung untuk mementingkan diri mereka sendiri.

Untuk kelompok seperti ini Kung Fu Tze menyebut mereka sebagai Tsei. Karena tipe manusia dari kelompok ini tidak perduli apakah hidupnya telah memberi manfaat atau tidak bagi orang disekitar mereka. Mereka tidak perduli apakah setelah meninggal nanti mereka akan dikenang sebagai orang yang baik bagi orang sekitar mereka. Kung Fu Tze melihat bahwa manusia dari kelompok ini tidak akan pernah dikenang jasanya terutama setelah mereka meninggal.

3. Kaum Reformis

Selama masa kehidupan Kung Fu Tze masih banyak orang dari golongan terpelajar dan politisi yang merasa tidak puas dengan keadaan masyarakat pada waktu itu dan berusaha mencari bentuk reformasi yang cocok untuk masyarakatnya.

Dalam mencari model reformasi mereka banyak membaca literatur-literatur kuno dan ini yang memandu mereka dan menjadi sumber acuan mereka.

Literatur-literatur kuno tersebut tidaklah mudah untuk dipelajari karena banyak dari literatur tersebut sudah hilang atau tersebar di beberapa negara bagian atau wilayah, sehingga tidak semua orang dari kelompok reformis ini dapat mempunyai kesempatan untuk mendapatkan literatur kuno ini secara utuh.

Karena sulitnya mendapatkan literatur kuno ini secara utuh dan menyeluruh maka oleh Kung Fu Tze dikumpulkan dan dirangkum kedalam beberapa kitab dan dikelompokkan sesuai dengan pokok bahasannya yang kemudian dikenal sebagai kitab-kitab Shih Ching (Buku tentang Puisi), Shu Ching (Buku tentang Sejarah), I Li (Buku Upacara), Yueh Ching (Buku tentang Musik), I Ching (Buku tentang Perubahan), Ch’un Ch’iu (Musim Semi dan Gugur).

Kung Fu Tze percaya bahwa untuk melakukan perubahan harus dimulai dari dalam atau dari pemerintahan itu sendiri, maka Ia menganjurkan murid-muridnya untuk menjadi aparat pemerintahan dan mulai melakukan perubahan dengan cara melakukan perubahan dari diri sendiri dan memberi contoh pada yang lain. Dan Kung Fu Tze mengajarkan cara yang paling efektif dalam melakukan perubahan ini melalui pendidikan umum yang terbuka bagi semua orang.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: