Beranda > Berita Indonesia, Berita IPTEK > UGM Produksi Alat Konversi Gas Lebih Murah

UGM Produksi Alat Konversi Gas Lebih Murah


Bukan hanya PT Dirgantara Indonesia yang bisa membuat alat konversi bahan bakar premium ke gas. Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada kini dapat membuat alat yang harus digunakan kendaraan roda empat agar bisa memakai bahan bakar gas ini.

“Kami teman-teman UGM sudah produksi converter kit (perangkat konversi) sendiri,” ujar ekonom Universitas Gajah Mada, Anggito Abimanyu, dalam konferensi pers di Jakarta. Harga alat konversi itu pun hanya sekitar Rp 8-10 juta per unit, lebih murah ketimbang alat konversi impor yang rencananya akan didatangkan dari Italia oleh pemerintah yang mencapai Rp 14 juta per unit.

Anggito meminta kepada pemerintah agar melihat hasil riset universitas ini dan jangan hanya mengandalkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak berkompetensi memproduksi alat konversi. Anggito mengatakan, sampai saat ini belum ada investor ataupun kementerian yang melirik alat konversi gas yang penelitiannya dilakukan selama 3 tahun ini.

Ketua Tim Mobil Penelitian Gas UGM Jayan Sentanuhady mengatakan, penyediaan alat konversi gas ini tidak bisa diproduksi oleh satu instansi. Lagi pula, kebutuhannya mendesak jika pemerintah benar-benar mau menerapkan pembatasan BBM bersubsidi dengan pertamax dan bahan bakar gas per 1 April nanti. “Caranya kerja sama saja,” ujar Jayan.

Selain pembuatan alat konversi itu sendiri, Jayan mengingatkan perlunya pembuatan standar alat maupun standar pemasangan alat. Ia mengatakan, pemerintah bisa meminta bantuan sejumlah universitas untuk menyusun standarnya. “Itulah yang harus disiapkan oleh negara ini. Bisa minta tolong UGM, bisa minta tolong (universitas) lain-lain untuk membuatkan standar-standar itu. Enggak masalah,” katanya.

Seperti diwartakan, pemerintah rencananya akan melakukan pembatasan BBM bersubsidi dengan mengalihkan konsumsi BBM subsidi ke pertamax dan bahan bakar gas. Alat konversi dibutuhkan untuk mobil yang tadinya berbahan bakar minyak. Sejauh ini, pemerintah mendorong PT Dirgantara Indonesia untuk memproduksi alat konversi gas tersebut. PT DI pun menyanggupi untuk memproduksi dengan kapasitas hingga satu juta unit.

Iklan
  1. 16 Januari 2012 pukul 02.57

    saya yakin universitas atau komunitas riset lain juga sudah punya alat serupa. hanya saja belum dioptimalkan keberadaannya.

  2. 17 Januari 2012 pukul 03.36

    iya saya juga setuju dgn pendapat anda…
    tp sayangnya universitas atau komunitas lain juga hambatan nya pada masalah dana…
    :D:D:D

    • 17 Januari 2012 pukul 13.01

      duit lagi, duit lagi…
      berapa sih…
      πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

  3. 17 Januari 2012 pukul 13.39

    iya klw masalah berapa – berapanya saya gk tau, yg jelas di universitas saya juga lg pengembangan membuat robot mini, tp sampai sekarang berkembang atau tidak berkembang, soalnya kata teman – teman saya bilang “duh dana nya kurang”, jdi pengembangan pun terhambat…
    tapi gk juga sih …
    πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: